Minggu, 15 November 2015

Fallout Shelter, Mari Membantu Manusia Menghadapi Kerasnya Dunia Pasca Perang Nuklir




            Hai, Gan. . . kembali lagi dengan Xoxx sang gamers kere. Lama gak ngeblog, maaf ya : P kebanyakan tugas sekolah sih, jadi gak sempet mikirin tentang blog : p. Sekarang aku kembali dengan blog baru . . . tampilan baru yang lebih . . . Sederhana. Ha ha ha . . . maklumlah blog ini baru dan dibuat untuk Tim Jurnalistik SMA Negeri 1 Juwana. Jadi topik – topik posnya bersifat acak dan unik, misalnya hari ini tips dan trik, besoknya cerpen, besoknya lagi berita tentang game, besoknya cerpen . . . Hah . . . puyeng aku. Tapi tak apa, justru jika blog dibuat random dengan topic yang berubah – ubah setiap waktu justru akan lebih keren dan gak mbosenin.

            Ah! Kayaknya aku banyakan ngomong nih, kita langsung saja, oke gan.

            Kali ini topiknya (seperti biasa) gaming. Dan kali ini game yang aku ulas untuk platform Android dan Ios yang diadaptasi dari game aslinya di Pc, Fallout.

            Mungkin kalian pernah mendengarnya? Atau mungkin kalian tengah memainkannya sekarang? Ya, bisa dibilang Seri Fallout lebih populer di pc (karena memang ini pertama kalinya Bethesda membuat game Fallout di Android). Mulai dari Fallout , Fallout 2, Fallout 3, Fallout New Vegas, Hingga Fallout 4. Tapi kita tak akan membahas mereka, kita akan membahas adik mereka yaitu Fallout Shelter.
           
            Ceritanya, Dunia telah hancur akibat perang nuklir dan manusia terpaksa harus tinggal ditempat tercemar dengan makhluk mutan yang setiap saat mengancam keselamatan mereka. Maka dari itu, kamu (yang main game ini) ditunjuk untuk mengelola sebuah bungker untuk manusia bertahan hidup yang disebut dengan Vault.

            Di vault nanti kamu akan mengelola sumber daya untuk mencukupi kebutuhan manusia yang tinggal di vaultmu. Listrik, air, dan makanan adalah tiga sumber yang akan kamu kelola. Setiap sumber daya di dapat dari bangunan bangunan tertentu seperti Power Generator, Diner, dan Water Treatment. Semuanya memiliki konsekuensi sendiri jika sumber dayanya kurang.

            Power Generator, berfungsi menghasilakan listrik. Jika listrik yang dihasilkan kurang, maka bangunan yang jaraknya paling jauh akan mati.



            Diner, berfungsi menghasilkan makanan. Jika makanan yang dihasilkan kurang, maka secara perlahan nyawa dari dweller (sebutan untuk manusia yang tinggal di dalam vault) akan berkurang.


           
            Water Treatment, berfungsi menghasilkan Air. Jika air yang dihasilkankurang, maka secara perlahan dweller akan terkena paparan radiasi. Sehingga mengurangi kesehatan mereka.



            Ada juga bangunan lainnya yang berguna untuk menyimpan barang seperti pakaian dan senjata dan bangunan penunjang lainnya yang bisa kalian cek sendiri ketika memainkannya. Serta kalian bisa mengirim para dweller ke Westerland untuk mandapatkan pakaian atau senjata dan caps (tutup botol sebagai mata uang? That’s a good idea) yang berguna untuk membangun bangunan atau upgrade.
     
            Juga kamu harus berhati – hati dalam mengelola setiap bangunan yang ada, karena jika salah memilih langkah maka sumber daya yang akan dihasilkan tidak akan maksimal dan justru  akan mengurangi kebahagiaan dari dweller. Semakin rendah kebahagiaan mereka maka akan semakin susah bagi mereka untuk memproduksi sumberdaya secara maksimal.

            Bagaimana? Gampang? Jangan keburu memutuskan. Karena semua kejadian di dalam game ini benar – benar terjadi secara acak. Bisa saja secara tiba – tiba vaultmu mendapat masalah Seperti ruangan yang terbakar dan di serang oleh makhluk mutan atau bandit.


Apa Yang Kalian Inginkan?!


Panas! Panas!

Kecoak! Argh……

Upercut! Upercut!

Sek bro, antrian kari sitik

            Menurutku game ini tergolong adiktif untuk ukuran game menejemen. Karena sistem permainan yang dalam dan jalan cerita yang menarik. Bethesda berhasil membuat game Fallout yang melenceng dari kodratnya sebagai game shooter manjadi game menejemen tanpa menghilangkan keseruan yang ada.


            Untuk mekanismenya, game ini cukup sederhana dan saya tak perlu menjelaskannya secara panjang lebar. Tertarik? Kalian bisa mendownloadnya langsung di google play, karena . . . game ini . . . GRATIS!!!! YAY!!!! (sesuai motoku, he he he). Tapi jelas game ini terdapat IAP, tapi tenang IAPnya tidak ganas. Hanya untuk membeli lunch box saja yang berguna untuk mendapatkan hadiah seperti karakter, senjata, armor, sumber daya, atau caps (tutup botol).

            Sekian posting dari saya, jika kalian suka dengan postingan ini tolong di komen dan sebarkan ke teman – teman kalian tetang blog ini. dan artikel ini juga ada di blog saya (sekali – sekali promosi) di xoxxbocahgokil.blogspot.co.id terima kasih telah membaca artikel saya dan sampai ketemu lagi.

Sabtu, 19 September 2015

Kunjungan BNN

   Beberapa hari yang lalu, sekolah kita tercinta kedatangan tamu istimewa. Siapa ? Iwan Fals ? Bukan. Pak Jokowi ? Juga bukan. Naruto ? Apa lagi. Yang datang adalah........BNN !!! Jeng ! Jeng ! jeng !!! (ada efek musiknya, biar dramatis) Badan Narkotika Nasional atau yang biasa disingkat BNN adalah sebuah badan nasional yang secara khusus menangani berbagai macam masalah yang berkaitan dengan Narkoba di Indonesia.

    Lalu kenapa BNN datang ke sekolah kita ? Apakah ada razia ? Apakah narkoba telah mencemari sekolah kita tercinta ? Apakah Daddy Corbuzier akan menikah dengan Chika Jesica ? Pemirsa !! Jangan kemana-mana, karena semua hal tersebut akan kita bahas setajam........Clurit !!!

   Ehm, back to the topic. Jadi ceritanya, dalam rangka mengurangi pemakaian narkoba secara ilegal oleh remaja, pemerintah bekerja sama dengan BNN untuk menyelenggarakan kegiatan "Aksi Sekolah Bebas Narkoba". Dalam kegiatan tersebut, 40 sekolah di Provinsi Jateng mengadakan berbagai kegiatan yang bertemakan "Sekolah Anti Narkoba". BNN sebagai juri juga mengirimkan perwakilannya ke 40 sekolah tersebut. Sekolah kita tercinta juga mengadakan berbagai kegiatan menarik, seperti seminar, tes urin, lomba membuat yel-yel, lomba selfie, sampai pembentukan satgas (satuan petugas) anti narkoba.

   Dan karena masyarakat smanju itu baik-baik, pinter, tidak sombong dan rajin menabung, maka saat BNN akan datang berkunjung sekolah kita berencana untuk meledakkan mereka membuat acara sambutan yang diikuti oleh perwakilan masing-masing kegiatan ekstrakulikuler, organisasi sekolah dan juga guru.    

   Sehari sebelum BNN datang, para peserta penyambutan sudah giat berlatih dari pagi hingga pagi lagi. Dan saat tamu BNN tiba, dimulailah acara penyambutan yang meriah. Para peserta penyambutan berbari saling berhadapan untuk membentuk jalan dari gerbang sampai ke aula sekolah. Masing-masing perwakilan ekstra juga menampilkan keunikannya masing-masing.

  Setelah mencapai aula sekolah, Pak Kunarto memandu tamu BNN ke ruang sekretariat untuk menilai berbagai acara yang telah diadakan oleh smanju yang berkaitan dengan anti narkoba.

  Akhirnya setelah beberapa lama, para tamu BNN selesai menilai dan pulang. Yah, kita memang belum tau tentang hasilnya. Mudah-mudahan bagus dan segera diumumkan.



  










Rabu, 16 September 2015

DI TENGAH BELENGGU HITAM


             Oleh : Melisa Nurul Handayani

Udara  sejuk  menyambutku pagi ini, ku buka jendela kamarku dan ku hirup dalam-dalam aroma pagi  ini, ku gunakan pagi yang indah ini untuk mengingat sang pencipta yang telah menciptakaan dunia dan seisinya.  Di tengah suasana khusyukku  tiba-tiba terdengar suara mama memanggilku.

‘’RETA……………. Bangun sayang ini sudah pagi, kok kamu belum bangun sih!.” Teriak mama dari luar pintu kamarku.

Dengan tergesa-gesa ku copot mungkenaku dan ku sembunyikan di bawah kasurku, segera ku hampiri mama  dan berpura-pura aku masih mengantuk  karena aku tidak ingin mamaku tahu kalau aku sedang sholat, mamaku tidak suka kalau aku sholat entah mengapa aku sendiri tidak, pernah  sekali ku mencoba untuk menyuruhnya sholat  bukannya aku mendapatkan sambutan hangat tetapi mendapatkan tamparan bahkan dengan terang-terang mama mengatakan kalau aku tidak boleh sholat, inginku tanyakan alasannya namun mama buru-buru meninggalkanku.

“Eh, mama ada apa ma?” Tanyaku pura-pura tidak tahu

“Emang kamu nggak kesekolah, jam segini belum bangun.” Celoteh mama

“Yaa, ma ini juga mau mandi.” Jawabku dengan nada cuek

Segera ku ambil handukku dan bergegas untuk mandi.

Selesai mandi aku berdandan selayaknya perempuan pada umumnya, terdengar suara klakson mobil mama dari luar ini tandanya aku harus bergegas berangkat sekolah, aku tidak pernah sarapan di rumah karena mama malas untuk memasak hidangan pagi-pagi buta.

Sesampainya di kelas aku langsung menaruh tasku di meja dan berlari menuju kantin, aku tidak ingin telat masuk kelas gara - gara aku sarapan pagi. Ku perhatikan semua penjuru kantin, tumben tidak ada Rere  biasanya dia menungguku di  bangku pojok kantin. (Yasudahlah, aku makan sendirian saja) dalam batinku.

Setelah selesai makan aku bergegas menuju kelas karena bel sudah berbunyi, dan ku temukan Rere di sana ternyata dia sedang membaca novel.

“Re, mengapa tadi loe nggak ke kantin, biasanya loe kan nunggu gue di situ?” Tanyaku pada Rere

“Maaf, ta tadi aku berangkatnya kesiangan.” Jawab Rere.

“Oh, emang tadi sudah ada bu lusi ?” tanyaku

“Belum.” Jawab Rere

“Syukurlah.”

Tak berapa lama Bu Lusi datang dan mengawali  pelajaran hari ini.

Siangnya sepulang dari sekolah tidak ada yang aneh di rumahku, hanya saja di depan rumahku ada banyak mobil, ku tanyakan kepada satpam rumahku. Pak Rudi menjawab bahwa ayah ke datangan tamu dari pihak BNN, aku segera berlari menuju ruang tamu, ternyata di situ sudah ada polisi dan pihak BNN. Aku tidak tahu apa yang terjadi, ku tanyakan pada papa namun papa hanya diam, akhirnya ku tanyakan kepada pihak BNN apa yang sekiranya telah terjadi mengapa rumahku jadi berantakan. Dan pihak BNN menjelaskan bahwa papa memiliki barang haram sejenis narkoba. Papa akan segera di bawa ke panti rehabilitasi. Seketika tubuhku lemas seperti tak mempuyai tulang, aku hanya menatap kosong  sekeliling ruang tamuku. Aku tidak pernah menyangka ayah mempunyai barang haram itu, inginku menangis sekeras kerasnya namun tiba-tiba aku seperti tidak bisa melihat sekelilingku. Setelah aku sadar ternyata aku sudah berada di tempat tidur, aku menganggap kejadian tadi hanyalah mimpi tapi ternyata tidak, kejadian tadi benar adanya. Seketika aku menangis dan mama menenangkanku. Dia meyakinkanku bahwa papa akan baik - baik saja di sana, tapi yang aku pikirkan bukan itu, yang aku pikirkan adalah  papa selama ini tidak pernah menunjukan sikap yang mencurigakan hanya saja dia sesekali bersikap tempramen, tapi itu ku anggap wajar-wajar saja.

Dua bulan berlalu setelah penjemputan papa, rumahku semakin tidak terurus, aku bingung mengapa mama tidak ingin mengurusi rumah, dan dia selalu mengurung di di kamar hanya sesekali dia keluar untuk memberiku uang ataupun. Aku berfikir apakah mama frustasi di tinggal papa? Tapi itu rasanya tidak mungkin karena papa pergi sudah dua bulan tidak seharusnya mama bersedih sampai dua bulan lamanya. Rasa curiga mulai timbul dari benakku, pagi ini mama akan pergi ke kantor papa untuk mengecek bisnis papa. Setelah kepergian mama, aku segera membuka pintu kamar mama, kamar yang pengap entah sudah berapa lama tidak di rapikan, namun itu tidak menyurutkan niatku untuk menyelidiki mama. Baru ku berjalan menuju kasur mama, ku temukan alat yang tidak aku kenal, dan sekantong bubuk putih, aku sendiri tidak tahu namanya, aku penasaran dan ku ambil barang itu dari kamar mama.

Sesampainya di rumah mama mencari barangnya yang sudah aku ambil, dia bertanya padaku dan aku menjawab bahwa barangnya sudah aku ambil. Dia memaksa ku untuk menyerahkan barang itu dan aku tidak mau karena aku masih penasaran dengan barang itu. Karena aku enggan memberikan barang itu akhirnya aku mendapatkan tendangan dari mama, seketika aku jatuh tersungkur. Akhirnya ku berikan barang itu pada mama, aku tidak tahu sebarapa pentingnya barang itu bagi mama sehingga tega menendang anaknya sendiri. Setelah ku ingat-ingat kembali barang itu seperti barang yang pernah di temukan pihak BNN di kamar papa sebelum  papa di bawa ke panti rehabilitasi. Astagfirullah ternyata itu barang haram yang pernah di miliki papa, aku tidak menyangka  mama mempunyai barang haram itu, aku seperti tersambar petir di siang bolong, batinku menjerit membayangkan apa yang telah terjadi pada keluargaku. Aku bingung aku harus bagaimana , barang itu sudah menjerat papa dan mamaku. Entah dari mana mereka mendapatkannya.

Ku hampiri mama, ternyata mama sedang menggunakan barang itu aku hanya dapat menatap mama. Dalam hitungan menit obat itu mulai bereaksi. Aku meneteskan air mata di kala mama menggunakan barang itu.

Keesokan harinya aku menghampiri seorang ustad terdekat di rumahku, aku bertanya soal bagaimana menyembuhkan pecandu narkoba, dan ustad itu berkata bahwa kita tidak boleh memberikan obat itu di saat dia menginginkannya, kita juga harus mengajarinya untuk mengingat pada sang pencipta.

Setelah selesai bertanya pada ustad, aku kembali ke rumah ku dapat tubuh mama menggigil meronta - ronta meminta obat itu, aku rasa mama sudah overdosis narkoba. Ku ikuti saran pak ustad ku ikat tubuh mama dengan ikat pinggang dan ku seret tubuh mama dan ku siram dengan air. Memang ini seperti tidak berperi kemanusiaan tapi ini demi mama. Mama memohon padaku untuk memberikan obat itu tapi tak secuilpun aku kasih padanya. Adzan mulai berkumandang ku ajari mama untuk sholat awalnya ia menolak tapi aku berkata ini demi dia untuk sembuh. Dalam doanya dia meneteskan air mata dia mengingat tentang dosa-dosanya selama ini. Mema memintaku untuk mengajarinya membaca Al - Qur'an aku dengan senang hati mengajarinya.

Dalam satu bulan mama berubah drastis, sekarang mama sudah mau sholat, tidak menggunkan barang haram itu lagi bahkan dia mengenakan hijab dan dia juga menyuruhku untuk mengenakan hijab. Aku dan mama tidak menyangka kami bisa mengalahkan barang jahat itu. Dalam hitungan hari kami akan menyambut ke pulangan ayah dari panti rehabilitasi. Kami tidak sabar akan menceritakan pada ayah pengalaman kami melawan barang jahat itu.

Keesokan harinya aku dan mama di kagetkan dengan suara mobil ambulan, di depan rumah kami  sudah ada segrombolan polisi, salah satu dari mereka manghampiriku dan mama. Orang itu berkata bahwa papa sudah meninggal. Mendengar pernyataan dari polisi itu aku hanya diam dengan tatap kosong tubuhku kaku. Sedangkan mama menangis dan menghampiri jenazah ayah. Sedikit demi sedikit air mata keluar dari balik kelopak mataku. Dengan setengah sadar aku berlari menghampiri jenazah papa yang terbujur kaku dengan wajah pucatnya. Aku bertanya pada mama, apakah ini mimpi tapi mama menjawab itu bukan mimpi. Aku tak percaya laki - laki setengah baya itu begitu cepat meninggalkan kami padahal kami ingin sekali memeluknya dalam  keadaan sehat. Kami ingin merayakan keberhasilan kami melawan obat jahat itu. Di tengah tangisanku aku di kagetkan dengan suara seseorang dia berkata, ”Tenang mbak papa anda sudah bertobat dan dia meninggal dalam keadaan sujud. ”  Batinku sedikit  lega dan bersyukur papa meninggal dalam keadaan sudah tobat.

Tak berapa lama jasad ayah akan di masukkan ke liang kubur, aku berdoa pada ALLAH semoga keluarga kami di jauhkan dari barang jahat itu yaitu NARKOBA.