Oleh : Melisa Nurul
Handayani
Udara sejuk
menyambutku pagi ini, ku buka jendela kamarku dan ku hirup dalam-dalam
aroma pagi ini, ku gunakan pagi yang
indah ini untuk mengingat sang pencipta yang telah menciptakaan dunia dan
seisinya. Di tengah suasana
khusyukku tiba-tiba terdengar suara mama
memanggilku.
‘’RETA……………. Bangun sayang ini sudah
pagi, kok kamu belum bangun sih!.” Teriak mama dari luar pintu kamarku.
Dengan tergesa-gesa ku copot
mungkenaku dan ku sembunyikan di bawah kasurku, segera ku hampiri mama dan berpura-pura aku masih mengantuk karena aku tidak ingin mamaku tahu kalau aku
sedang sholat, mamaku tidak suka kalau aku sholat entah mengapa aku sendiri
tidak, pernah sekali ku mencoba untuk
menyuruhnya sholat bukannya aku mendapatkan
sambutan hangat tetapi mendapatkan tamparan bahkan dengan terang-terang mama
mengatakan kalau aku tidak boleh sholat, inginku tanyakan alasannya namun mama
buru-buru meninggalkanku.
“Eh, mama ada apa ma?” Tanyaku
pura-pura tidak tahu
“Emang kamu nggak kesekolah, jam
segini belum bangun.” Celoteh mama
“Yaa, ma ini juga mau mandi.” Jawabku dengan nada cuek
Segera ku ambil handukku dan bergegas untuk mandi.
Selesai mandi aku berdandan
selayaknya perempuan pada umumnya, terdengar suara klakson mobil mama dari luar
ini tandanya aku harus bergegas berangkat sekolah, aku tidak pernah sarapan di
rumah karena mama malas untuk memasak hidangan pagi-pagi buta.
Sesampainya di kelas aku langsung
menaruh tasku di meja dan berlari menuju kantin, aku tidak ingin telat masuk
kelas gara - gara aku sarapan pagi. Ku perhatikan semua penjuru kantin, tumben
tidak ada Rere biasanya dia menungguku
di bangku pojok kantin. (Yasudahlah,
aku makan sendirian saja) dalam batinku.
Setelah selesai makan aku bergegas
menuju kelas karena bel sudah berbunyi, dan ku temukan Rere di sana ternyata
dia sedang membaca novel.
“Re, mengapa tadi loe nggak ke
kantin, biasanya loe kan nunggu gue di situ?” Tanyaku pada Rere
“Maaf, ta tadi aku berangkatnya
kesiangan.” Jawab Rere.
“Oh, emang tadi sudah ada bu lusi ?”
tanyaku
“Belum.” Jawab Rere
“Syukurlah.”
Tak berapa lama Bu Lusi datang dan
mengawali pelajaran hari ini.
Siangnya sepulang dari sekolah tidak
ada yang aneh di rumahku, hanya saja di depan rumahku ada banyak mobil, ku
tanyakan kepada satpam rumahku. Pak Rudi menjawab bahwa ayah ke datangan tamu
dari pihak BNN, aku segera berlari menuju ruang tamu, ternyata di situ sudah
ada polisi dan pihak BNN. Aku tidak tahu apa yang terjadi, ku tanyakan pada
papa namun papa hanya diam, akhirnya ku tanyakan kepada pihak BNN apa yang
sekiranya telah terjadi mengapa rumahku jadi berantakan. Dan pihak BNN
menjelaskan bahwa papa memiliki barang haram sejenis narkoba. Papa akan segera
di bawa ke panti rehabilitasi. Seketika tubuhku lemas seperti tak mempuyai
tulang, aku hanya menatap kosong sekeliling
ruang tamuku. Aku tidak pernah menyangka ayah mempunyai barang haram itu,
inginku menangis sekeras kerasnya namun tiba-tiba aku seperti tidak bisa
melihat sekelilingku. Setelah aku sadar ternyata aku sudah berada di tempat
tidur, aku menganggap kejadian tadi hanyalah mimpi tapi ternyata tidak,
kejadian tadi benar adanya. Seketika aku menangis dan mama menenangkanku. Dia
meyakinkanku bahwa papa akan baik - baik saja di sana, tapi yang aku pikirkan
bukan itu, yang aku pikirkan adalah papa
selama ini tidak pernah menunjukan sikap yang mencurigakan hanya saja dia
sesekali bersikap tempramen, tapi itu ku anggap wajar-wajar saja.
Dua bulan berlalu setelah
penjemputan papa, rumahku semakin tidak terurus, aku bingung mengapa mama tidak
ingin mengurusi rumah, dan dia selalu mengurung di di kamar hanya sesekali dia
keluar untuk memberiku uang ataupun. Aku berfikir apakah mama frustasi di
tinggal papa? Tapi itu rasanya tidak mungkin karena papa pergi sudah dua bulan
tidak seharusnya mama bersedih sampai dua bulan lamanya. Rasa curiga mulai
timbul dari benakku, pagi ini mama akan pergi ke kantor papa untuk mengecek
bisnis papa. Setelah kepergian mama, aku segera membuka pintu kamar mama, kamar
yang pengap entah sudah berapa lama tidak di rapikan, namun itu tidak menyurutkan
niatku untuk menyelidiki mama. Baru ku berjalan menuju kasur mama, ku temukan
alat yang tidak aku kenal, dan sekantong bubuk putih, aku sendiri tidak tahu
namanya, aku penasaran dan ku ambil barang itu dari kamar mama.
Sesampainya di rumah mama mencari
barangnya yang sudah aku ambil, dia bertanya padaku dan aku menjawab bahwa
barangnya sudah aku ambil. Dia memaksa ku untuk menyerahkan barang itu dan aku
tidak mau karena aku masih penasaran dengan barang itu. Karena aku enggan
memberikan barang itu akhirnya aku mendapatkan tendangan dari mama, seketika
aku jatuh tersungkur. Akhirnya ku berikan barang itu pada mama, aku tidak tahu
sebarapa pentingnya barang itu bagi mama sehingga tega menendang anaknya
sendiri. Setelah ku ingat-ingat kembali barang itu seperti barang yang pernah
di temukan pihak BNN di kamar papa sebelum
papa di bawa ke panti rehabilitasi. Astagfirullah ternyata itu barang
haram yang pernah di miliki papa, aku tidak menyangka mama mempunyai barang haram itu, aku seperti
tersambar petir di siang bolong, batinku menjerit membayangkan apa yang telah
terjadi pada keluargaku. Aku bingung aku harus bagaimana , barang itu sudah
menjerat papa dan mamaku. Entah dari mana mereka mendapatkannya.
Ku hampiri mama, ternyata mama
sedang menggunakan barang itu aku hanya dapat menatap mama. Dalam hitungan
menit obat itu mulai bereaksi. Aku meneteskan air mata di kala mama menggunakan
barang itu.
Keesokan harinya aku menghampiri
seorang ustad terdekat di rumahku, aku bertanya soal bagaimana menyembuhkan
pecandu narkoba, dan ustad itu berkata bahwa kita tidak boleh memberikan obat
itu di saat dia menginginkannya, kita juga harus mengajarinya untuk mengingat
pada sang pencipta.
Setelah selesai bertanya pada ustad,
aku kembali ke rumah ku dapat tubuh mama menggigil meronta - ronta meminta obat
itu, aku rasa mama sudah overdosis narkoba. Ku ikuti saran pak ustad ku ikat
tubuh mama dengan ikat pinggang dan ku seret tubuh mama dan ku siram dengan
air. Memang ini seperti tidak berperi kemanusiaan tapi ini demi mama. Mama
memohon padaku untuk memberikan obat itu tapi tak secuilpun aku kasih padanya.
Adzan mulai berkumandang ku ajari mama untuk sholat awalnya ia menolak tapi aku
berkata ini demi dia untuk sembuh. Dalam doanya dia meneteskan air mata dia mengingat
tentang dosa-dosanya selama ini. Mema memintaku untuk mengajarinya membaca Al -
Qur'an aku dengan senang hati mengajarinya.
Dalam satu bulan mama berubah
drastis, sekarang mama sudah mau sholat, tidak menggunkan barang haram itu lagi
bahkan dia mengenakan hijab dan dia juga menyuruhku untuk mengenakan hijab. Aku
dan mama tidak menyangka kami bisa mengalahkan barang jahat itu. Dalam hitungan
hari kami akan menyambut ke pulangan ayah dari panti rehabilitasi. Kami tidak
sabar akan menceritakan pada ayah pengalaman kami melawan barang jahat itu.
Keesokan harinya aku dan mama di
kagetkan dengan suara mobil ambulan, di depan rumah kami sudah ada segrombolan polisi, salah satu dari
mereka manghampiriku dan mama. Orang itu berkata bahwa papa sudah meninggal.
Mendengar pernyataan dari polisi itu aku hanya diam dengan tatap kosong tubuhku
kaku. Sedangkan mama menangis dan menghampiri jenazah ayah. Sedikit demi
sedikit air mata keluar dari balik kelopak mataku. Dengan setengah sadar aku
berlari menghampiri jenazah papa yang terbujur kaku dengan wajah pucatnya. Aku
bertanya pada mama, apakah ini mimpi tapi mama menjawab itu bukan mimpi. Aku
tak percaya laki - laki setengah baya itu begitu cepat meninggalkan kami padahal
kami ingin sekali memeluknya dalam keadaan
sehat. Kami ingin merayakan keberhasilan kami melawan obat jahat itu. Di tengah
tangisanku aku di kagetkan dengan suara seseorang dia berkata, ”Tenang mbak
papa anda sudah bertobat dan dia meninggal dalam keadaan sujud. ” Batinku sedikit lega dan bersyukur papa meninggal dalam
keadaan sudah tobat.
Tak berapa lama jasad ayah akan di
masukkan ke liang kubur, aku berdoa pada ALLAH semoga keluarga kami di jauhkan
dari barang jahat itu yaitu NARKOBA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar