Sabtu, 19 September 2015

Kunjungan BNN

   Beberapa hari yang lalu, sekolah kita tercinta kedatangan tamu istimewa. Siapa ? Iwan Fals ? Bukan. Pak Jokowi ? Juga bukan. Naruto ? Apa lagi. Yang datang adalah........BNN !!! Jeng ! Jeng ! jeng !!! (ada efek musiknya, biar dramatis) Badan Narkotika Nasional atau yang biasa disingkat BNN adalah sebuah badan nasional yang secara khusus menangani berbagai macam masalah yang berkaitan dengan Narkoba di Indonesia.

    Lalu kenapa BNN datang ke sekolah kita ? Apakah ada razia ? Apakah narkoba telah mencemari sekolah kita tercinta ? Apakah Daddy Corbuzier akan menikah dengan Chika Jesica ? Pemirsa !! Jangan kemana-mana, karena semua hal tersebut akan kita bahas setajam........Clurit !!!

   Ehm, back to the topic. Jadi ceritanya, dalam rangka mengurangi pemakaian narkoba secara ilegal oleh remaja, pemerintah bekerja sama dengan BNN untuk menyelenggarakan kegiatan "Aksi Sekolah Bebas Narkoba". Dalam kegiatan tersebut, 40 sekolah di Provinsi Jateng mengadakan berbagai kegiatan yang bertemakan "Sekolah Anti Narkoba". BNN sebagai juri juga mengirimkan perwakilannya ke 40 sekolah tersebut. Sekolah kita tercinta juga mengadakan berbagai kegiatan menarik, seperti seminar, tes urin, lomba membuat yel-yel, lomba selfie, sampai pembentukan satgas (satuan petugas) anti narkoba.

   Dan karena masyarakat smanju itu baik-baik, pinter, tidak sombong dan rajin menabung, maka saat BNN akan datang berkunjung sekolah kita berencana untuk meledakkan mereka membuat acara sambutan yang diikuti oleh perwakilan masing-masing kegiatan ekstrakulikuler, organisasi sekolah dan juga guru.    

   Sehari sebelum BNN datang, para peserta penyambutan sudah giat berlatih dari pagi hingga pagi lagi. Dan saat tamu BNN tiba, dimulailah acara penyambutan yang meriah. Para peserta penyambutan berbari saling berhadapan untuk membentuk jalan dari gerbang sampai ke aula sekolah. Masing-masing perwakilan ekstra juga menampilkan keunikannya masing-masing.

  Setelah mencapai aula sekolah, Pak Kunarto memandu tamu BNN ke ruang sekretariat untuk menilai berbagai acara yang telah diadakan oleh smanju yang berkaitan dengan anti narkoba.

  Akhirnya setelah beberapa lama, para tamu BNN selesai menilai dan pulang. Yah, kita memang belum tau tentang hasilnya. Mudah-mudahan bagus dan segera diumumkan.



  










Rabu, 16 September 2015

DI TENGAH BELENGGU HITAM


             Oleh : Melisa Nurul Handayani

Udara  sejuk  menyambutku pagi ini, ku buka jendela kamarku dan ku hirup dalam-dalam aroma pagi  ini, ku gunakan pagi yang indah ini untuk mengingat sang pencipta yang telah menciptakaan dunia dan seisinya.  Di tengah suasana khusyukku  tiba-tiba terdengar suara mama memanggilku.

‘’RETA……………. Bangun sayang ini sudah pagi, kok kamu belum bangun sih!.” Teriak mama dari luar pintu kamarku.

Dengan tergesa-gesa ku copot mungkenaku dan ku sembunyikan di bawah kasurku, segera ku hampiri mama  dan berpura-pura aku masih mengantuk  karena aku tidak ingin mamaku tahu kalau aku sedang sholat, mamaku tidak suka kalau aku sholat entah mengapa aku sendiri tidak, pernah  sekali ku mencoba untuk menyuruhnya sholat  bukannya aku mendapatkan sambutan hangat tetapi mendapatkan tamparan bahkan dengan terang-terang mama mengatakan kalau aku tidak boleh sholat, inginku tanyakan alasannya namun mama buru-buru meninggalkanku.

“Eh, mama ada apa ma?” Tanyaku pura-pura tidak tahu

“Emang kamu nggak kesekolah, jam segini belum bangun.” Celoteh mama

“Yaa, ma ini juga mau mandi.” Jawabku dengan nada cuek

Segera ku ambil handukku dan bergegas untuk mandi.

Selesai mandi aku berdandan selayaknya perempuan pada umumnya, terdengar suara klakson mobil mama dari luar ini tandanya aku harus bergegas berangkat sekolah, aku tidak pernah sarapan di rumah karena mama malas untuk memasak hidangan pagi-pagi buta.

Sesampainya di kelas aku langsung menaruh tasku di meja dan berlari menuju kantin, aku tidak ingin telat masuk kelas gara - gara aku sarapan pagi. Ku perhatikan semua penjuru kantin, tumben tidak ada Rere  biasanya dia menungguku di  bangku pojok kantin. (Yasudahlah, aku makan sendirian saja) dalam batinku.

Setelah selesai makan aku bergegas menuju kelas karena bel sudah berbunyi, dan ku temukan Rere di sana ternyata dia sedang membaca novel.

“Re, mengapa tadi loe nggak ke kantin, biasanya loe kan nunggu gue di situ?” Tanyaku pada Rere

“Maaf, ta tadi aku berangkatnya kesiangan.” Jawab Rere.

“Oh, emang tadi sudah ada bu lusi ?” tanyaku

“Belum.” Jawab Rere

“Syukurlah.”

Tak berapa lama Bu Lusi datang dan mengawali  pelajaran hari ini.

Siangnya sepulang dari sekolah tidak ada yang aneh di rumahku, hanya saja di depan rumahku ada banyak mobil, ku tanyakan kepada satpam rumahku. Pak Rudi menjawab bahwa ayah ke datangan tamu dari pihak BNN, aku segera berlari menuju ruang tamu, ternyata di situ sudah ada polisi dan pihak BNN. Aku tidak tahu apa yang terjadi, ku tanyakan pada papa namun papa hanya diam, akhirnya ku tanyakan kepada pihak BNN apa yang sekiranya telah terjadi mengapa rumahku jadi berantakan. Dan pihak BNN menjelaskan bahwa papa memiliki barang haram sejenis narkoba. Papa akan segera di bawa ke panti rehabilitasi. Seketika tubuhku lemas seperti tak mempuyai tulang, aku hanya menatap kosong  sekeliling ruang tamuku. Aku tidak pernah menyangka ayah mempunyai barang haram itu, inginku menangis sekeras kerasnya namun tiba-tiba aku seperti tidak bisa melihat sekelilingku. Setelah aku sadar ternyata aku sudah berada di tempat tidur, aku menganggap kejadian tadi hanyalah mimpi tapi ternyata tidak, kejadian tadi benar adanya. Seketika aku menangis dan mama menenangkanku. Dia meyakinkanku bahwa papa akan baik - baik saja di sana, tapi yang aku pikirkan bukan itu, yang aku pikirkan adalah  papa selama ini tidak pernah menunjukan sikap yang mencurigakan hanya saja dia sesekali bersikap tempramen, tapi itu ku anggap wajar-wajar saja.

Dua bulan berlalu setelah penjemputan papa, rumahku semakin tidak terurus, aku bingung mengapa mama tidak ingin mengurusi rumah, dan dia selalu mengurung di di kamar hanya sesekali dia keluar untuk memberiku uang ataupun. Aku berfikir apakah mama frustasi di tinggal papa? Tapi itu rasanya tidak mungkin karena papa pergi sudah dua bulan tidak seharusnya mama bersedih sampai dua bulan lamanya. Rasa curiga mulai timbul dari benakku, pagi ini mama akan pergi ke kantor papa untuk mengecek bisnis papa. Setelah kepergian mama, aku segera membuka pintu kamar mama, kamar yang pengap entah sudah berapa lama tidak di rapikan, namun itu tidak menyurutkan niatku untuk menyelidiki mama. Baru ku berjalan menuju kasur mama, ku temukan alat yang tidak aku kenal, dan sekantong bubuk putih, aku sendiri tidak tahu namanya, aku penasaran dan ku ambil barang itu dari kamar mama.

Sesampainya di rumah mama mencari barangnya yang sudah aku ambil, dia bertanya padaku dan aku menjawab bahwa barangnya sudah aku ambil. Dia memaksa ku untuk menyerahkan barang itu dan aku tidak mau karena aku masih penasaran dengan barang itu. Karena aku enggan memberikan barang itu akhirnya aku mendapatkan tendangan dari mama, seketika aku jatuh tersungkur. Akhirnya ku berikan barang itu pada mama, aku tidak tahu sebarapa pentingnya barang itu bagi mama sehingga tega menendang anaknya sendiri. Setelah ku ingat-ingat kembali barang itu seperti barang yang pernah di temukan pihak BNN di kamar papa sebelum  papa di bawa ke panti rehabilitasi. Astagfirullah ternyata itu barang haram yang pernah di miliki papa, aku tidak menyangka  mama mempunyai barang haram itu, aku seperti tersambar petir di siang bolong, batinku menjerit membayangkan apa yang telah terjadi pada keluargaku. Aku bingung aku harus bagaimana , barang itu sudah menjerat papa dan mamaku. Entah dari mana mereka mendapatkannya.

Ku hampiri mama, ternyata mama sedang menggunakan barang itu aku hanya dapat menatap mama. Dalam hitungan menit obat itu mulai bereaksi. Aku meneteskan air mata di kala mama menggunakan barang itu.

Keesokan harinya aku menghampiri seorang ustad terdekat di rumahku, aku bertanya soal bagaimana menyembuhkan pecandu narkoba, dan ustad itu berkata bahwa kita tidak boleh memberikan obat itu di saat dia menginginkannya, kita juga harus mengajarinya untuk mengingat pada sang pencipta.

Setelah selesai bertanya pada ustad, aku kembali ke rumah ku dapat tubuh mama menggigil meronta - ronta meminta obat itu, aku rasa mama sudah overdosis narkoba. Ku ikuti saran pak ustad ku ikat tubuh mama dengan ikat pinggang dan ku seret tubuh mama dan ku siram dengan air. Memang ini seperti tidak berperi kemanusiaan tapi ini demi mama. Mama memohon padaku untuk memberikan obat itu tapi tak secuilpun aku kasih padanya. Adzan mulai berkumandang ku ajari mama untuk sholat awalnya ia menolak tapi aku berkata ini demi dia untuk sembuh. Dalam doanya dia meneteskan air mata dia mengingat tentang dosa-dosanya selama ini. Mema memintaku untuk mengajarinya membaca Al - Qur'an aku dengan senang hati mengajarinya.

Dalam satu bulan mama berubah drastis, sekarang mama sudah mau sholat, tidak menggunkan barang haram itu lagi bahkan dia mengenakan hijab dan dia juga menyuruhku untuk mengenakan hijab. Aku dan mama tidak menyangka kami bisa mengalahkan barang jahat itu. Dalam hitungan hari kami akan menyambut ke pulangan ayah dari panti rehabilitasi. Kami tidak sabar akan menceritakan pada ayah pengalaman kami melawan barang jahat itu.

Keesokan harinya aku dan mama di kagetkan dengan suara mobil ambulan, di depan rumah kami  sudah ada segrombolan polisi, salah satu dari mereka manghampiriku dan mama. Orang itu berkata bahwa papa sudah meninggal. Mendengar pernyataan dari polisi itu aku hanya diam dengan tatap kosong tubuhku kaku. Sedangkan mama menangis dan menghampiri jenazah ayah. Sedikit demi sedikit air mata keluar dari balik kelopak mataku. Dengan setengah sadar aku berlari menghampiri jenazah papa yang terbujur kaku dengan wajah pucatnya. Aku bertanya pada mama, apakah ini mimpi tapi mama menjawab itu bukan mimpi. Aku tak percaya laki - laki setengah baya itu begitu cepat meninggalkan kami padahal kami ingin sekali memeluknya dalam  keadaan sehat. Kami ingin merayakan keberhasilan kami melawan obat jahat itu. Di tengah tangisanku aku di kagetkan dengan suara seseorang dia berkata, ”Tenang mbak papa anda sudah bertobat dan dia meninggal dalam keadaan sujud. ”  Batinku sedikit  lega dan bersyukur papa meninggal dalam keadaan sudah tobat.

Tak berapa lama jasad ayah akan di masukkan ke liang kubur, aku berdoa pada ALLAH semoga keluarga kami di jauhkan dari barang jahat itu yaitu NARKOBA.

Sabtu, 12 September 2015

     UCAPAN SELAMAT DATANG


     Haii kawan semua !! Selamat datang di blog kami !! Perkenalkan dulu, nama saya TheJoe (bukan nama asli), nama lengkapnya Nurwono Jarwo Menggolo Singo Masraden dan biasa dipanggil Dave. Saya adalah seorang manusia super yang berasal dari dimensi ke sembilan salah satu admin di blog ini. Bagi yang belum tahu, blog ini merupakan tempat bagi para anggota ekstrakulikuler jurnalistik SMANJU (SMA Negeri 1 Juwana) untuk memposting hasil-hsil liputan mereka. Dan juga sebagai tempat menulis para admin yang memang kurang kerjaan. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba ada postingan tentang game , anime, atau bahkan cerita horror.
     Jadi blog ini akan berisi hasil liputan dan foto-foto kegiatan yang ada di smanju. Dan mudah-mudahan blog ini umurnya bisa panjang, jangan kayak blog admin yang sebelumya yang di bakar massa gara-gara tulisannya yang amburadul.
     Mungkin hanya ini saja yang bisa admin sampaikan, jika ada kesalahan kata mohon di maafkan.
Wassalam.